Antara nyata dan maya. Maya dan nyata. Wah nampaknya itu sama saja pengertiannya, Cuma beda dalam penulisannya, itupun menurut saya, ga tau tuh kalo menurut mama loren ‘mungkin’ bisa saja menurut dia beda, ‘penulisan menggandung arti’ ,oh benarkah begitu?ya, bisa saja, penilaian orang berbeda-beda. Kalo kamu penasaran ya coba saja ikutan acara REG REG an (reg reg an disini bukan berarti reregan yang buat nutupin kaca,dan kaca pun bukan kaca mata, jelas bukan mata saya apalagi mata kamu ). Coooobaaaaa (*dengan nada perwayangan) saja tanyakan ke si REG itu, barangkali dia tau makna antara maya dan nyata ataupun nyata dan maya.
Dan ketika maya dengan nyata disangkut pautkan ataupun sebaliknya nyata dengan maya. Terserah mau pilih yang mana, itu hak kamu. Dan sudah pasti bukan hak saya, dan bukan pula hak orang tua kamu.
niat mau mencurahkan pikiran tentang dunia maya, loh ko malah berputar-dulu dengan sesuatu yang tidak karuan sampai-sampai menghabisakan dua paragraph dan beberapa kata. Oh,itu hak saya dong. Dang ding dong.
Maya…….
Ya sama seperti yang lainnya, memiliki dua sisi antara kebaikan dan keburukan, adapula yang menengah (tidak baik dan tidak buruk). Berarti jd 3 sisi dong?. Ya mungkin bisa saja, tapi peribahasa itu (memiliki dua sisi) sudah terlanjur enak untuk di ucapkan di dunia belahan manapun, apalagi kalo kita mengucapkkannya sambil makan-makanan enak berikut ditlaktir, wah betapa enaknya.
Maya…….
Ya, maya merupakan ladang pengetahuan, pencerahan, pendidikan, permasalahan, percakapan, perjudian, percandatawaan, (wah nampaknya yang terakhir tidak pantas tuh kalo pake imbuhan pe-an),ya begitulah penilaian orang akan dunia maya. beribu-ribu penilaian seperti pulau di Indonesia yang jumlahnya beribu-ribu, berikut semuanya belum terkasihi nama.
Dan saya pun mengalaminya (jangan anggap ini sebuah curhat tpi anggap saja ini sebuah angin gelebug yang tidak sama dengan angin AC, atau apa lah, ga tau saya juga).
Ambil saja ah satu contoh tentang fb,pasti tau lah apa itu fb?, atau fb itu apa?ya benar, tidak salah lagi, itu facebook yang konon saat ini sedang marak-maraknya digunakan. Digunakan siapa saja,dimana saja,kapan saja. Tua, muda, tidak tua dan tidak muda. Di kelas, di kantor, di kampus, di wc, bahkan di got sekalipun jika berkehendak. sebelum tidur, bangun tidur, sesudah makan, sebelum makan, dan di siang hari, wah nampaknya fb(kalo d baca jadi epbe oleh org sunda, bukan eph bi) sudah seperti minum obat saja 3x2 3x4 6x4 bahkan 8R.
Dari mulai yang berbau positif sampai negatif, ada tuh di fb. Dan saya pun bersyukur bisa merasakannya banyak pelajaran dan inspirasi yang saya dapat, blum tentu tuh org di pelosok sana bisa ngerasain (lebih tepatnya merasakan). Dan dari kacamata mata saya ,walau jujur saya ga pake kacamata, banyak hal-hal yang unik dari sana, Dari mulai A-Z 0-9 ada. Mungkin ini juga terjadi pada diri saya. Mungkin juga pada anda, itupun kalau ada yang membaca cacatan saya ini yang mungkin menurut sebagian orang mereka katakan tanda kutip ALAY (sebutan yang sedang marak-maraknya dimakan zaman sekarang) tapi saya terlanjur yakin bakal ada yang baca cacatan saya ini. Apa itu keunikannya ,dan ‘mungkin’ ini lah yang saya dapati :
1. Ketika Notification (kalo di translet ke bahasa Indonesia jadi pemberitahuan.red) ga ada satupun yang singgah di account facebooknya ,dia huleng ‘eumh meni sepi kieu FB teh’. Eh ketika Notifnya penuh morang-maring teu paruguh (tidak usah dibahas, semoga saja mengerti). Dan keheranannya, euh kieu salah kitu salah. Ges weh jadi remaja masigit.
2. Ketika sesuatu yang ga penting harus di munculkan kepermukaan(seperti cacatan saya ini mungkin) atau menurut anak gaul pada jaman era informatika ini mereka sebut GJ. Orang-orang berkomentar entah tertulis ataupun tidak tertulis “Naon sih”, “ah gejeh maneh” orang yang tidak bisa terima dari komentar itu mungkin akan membalas semengenanya “belegug, teu nyaho eta teh tulisan nanya” , “heu’euh maneh rameutuk”. Padahal mungkin apa yang orang lain tarik kepermukaan yang menurut kita anggap tidak penting itu adalah ilmu, walau ilmu itu setetes keringat tukang beca. Saya pun sering berbuat itu, ah namanya juga manusia tidak luput dari rasa ingin menonjolkan diri. Penting ga penting nu penting mah gaya CEUNAH lah. Burung pun ingin terbang tinggi setinggi angkasa ini jika mampu.
3. Tulisan Tidak bisa di baca dengan mata telanjang.
4. Konon social networking (semisal friendster, facebook,twitter, twister dan sajabana) rawan akan ke-ALAY-an. Maybe. apa itu alay. Saya pun tidak tahu jelas akan tulisan itu. Sepengetahuan saya mah alay teh kampring ceunah. Tapi teuink ‘mungkin lagi’ seperti saya ini. Lebih jelasnya search di google pasti banyak yang membahas itu. Tuh pan euweuh gawe ngabahas alay. Malah ada yang NIAT bikin kamus alay segala (saya acungkan dua jempol atas kreatifitasnya). Coba saja cari jika berminat. Tapi mending mencari lowongan pekerjaan dari pada mencari nukararitu patut mah lah. Apa jadinya ketika alay berteriak alay? besar.
5. Mendekati sempurna layaknya peribahasa 4 sehat lima sempurna (nah yang ini jelas-jelas GJ bung).
Masih banyak yang unik di dunia maya yang tidak bisa diraba tapi bisa rasa, rasa yang ebgitu bemacam-macam, semacam rasa nano-nano, nano-nano yang merupakan salah satu nama permen yang bersaing dipasaran. Coba bantu saya untuk menemukan keanehan yang lainnya, biar kita pansus kan sama-sama seperti kasus century yang tak usai-usai.
Pandangilah orang lain dengan mata sebelah yang tertutup layaknya bajak laut, maka anda pun akan di pandang dengan sebelah mata juga, begitu adil. Dan tumbuhan pun pingin tumbuh mekar sekehendaknya. Akhir kata JELAS jalan menuju rumah saya berbeda dengan orang lain bung.
Selasa, 23 Februari 2010
Anak cucu pun bercerita
Saat itu, saat dimana saya sedang benar-benar sedang tidak berada di cisaat.tapi saat itu saya berada di kerumunan orang-orang yang kira-kiranya berjumlah 3 orang dengan saya. Ya disitu, di tempat itu, tempat dimana cikal bakal “mungkin” para pemimpin tumbuh besar. Walaupun itu sekalipun hanya sekadar pemimpin rumah tangga kelak nanti. Saat itu bertepatan dengan malam minggu, malam dimana kalau menurut sebagian orang adalah ‘wakuncar’ (waktu berkunjung pacar.red), tapi TIDAK (sambil menyetopkan tangan) bagi kami. Bukan soal kami tidak punya pacar,(kebenaran saat itu kami sedang punya kadodoh,kecuali satunya lagi temen kami yang tidak punya) tapi alasan lain yang mendasar lah yang menyatakan kami harus berada di sebuah tempat, ya sebutlah tempat itu ‘kostan’ (walau sebenernya itu bukan lah kostan murni itu kostan) setelah seminggu full harus berkutat dengan mata kuliah yang tidak semuanya mata kuliah bisa saya terima dengan baik.
Malam minggu demi malam minggu saya habiskan bersama beberapa teman saya di kostan itu. Kalau saya boleh hiperbola dalam menggambarkan kostan itu, wah itu sebuah bangunan yang kalau dibandingkan dengan wc rumah saya, masih terlalu besar dan nyaman kostan itu. Kostan dimana kita selalu sulit dibuatnya hanya untuk sekadar mengetahui perbedaan antara pagi dengan sore, dan sore dengan pagi. Kostan yang selalu melatih kesabaran ditengah jail nya para pemakan bangkai itu (pemakan bangkai=menunjuk ke teman-teman saya). Pasti saja dan selalu jika ada salah satu dari kami yang masuk ke wc nya untuk ‘maaf’ pups, selalu saja di kunci diluar dengan durasi yang bisa dikatakan tidak sebentar.
Di situ (bukan berarti menunjuk ke situ ciburuy), bangunan yang saya tidak tau sama sekali kapan di bangunnya, bangunan yang di bangun pembangun itu. Andai saja saya tau, mungkin saya akan menuliskannya. Bangunan itu bangunan yang punya banyak cerita untuk kelak kami ceritakan pada anak cucu kami (itupun kalau ingat,tapi kayanya akan lupa). Tempat menanam benih-benih canda tawa dan duka lara. Tempat menghabiskan waktu di akhir minggu kami untuk berREMI ria ditemani kerikil makanan dan sedikit minuman yang terpisah dengan kulkasnya, kulkas, ya kulkas, kulkas yang jarang panen akan makanannya. Jikalau pun ada, ah itu hanya sebungkus keripik tempe dan hanya sekali, selebihnya nihil akan makanan. Pernah saya dapati ketika saya sedang lapar-laparnya, ketika membuka kulkas itu ada sebungkus keripik tempe yang wujudnya nampak sudah beku dibuatnya, sontak saya pun sesegera bertanya kepada teman saya yang sebut saja lah dia wellem, saya bertanya dengan nada kagett “astagfirullohhaladzim, guh, tinggali na pulkas aya naon?” . kontan wellem pun menjawab dengan nada seadanya dan sedingin pula “jiss, naon ieu di aya kiripik tempe na kulkas”. Sang empunya kostan pun menjawab spontan dengan nada tak bersalah “meh ngerekes euy (sembari nyengir)”. Apadaya dimakan pula lah itu makanan. Dan remi pun terus terjadi, tidak lupa selalu di iringi lagu-lagu vierra, hampir se-album lagu-lagu itu kami dengarkan ditengah-tengah kami sedang serius memikirkan kumpulan kardus bergambar itu. Saking seringnya diputar ulang, saya pun mungkin tahu betul lirik-lirik lagunya, saya berani bertaruh jikalau dalam ujian ada soal yang menanyakan lirik vierra itu, saya yakin akan mendapatkan nilai maksimal, hehe.
Di bangunan itu , tempat yang menyimpan cerita-cerita menarik bagi saya, tapi mungkin tidak bagi orang lain, mereka kan ga merasakannya. andai saja kamu disitu turut bersama kami, mungkin kamu bisa berasakannya. Tapi kayanya ga usah kayanya, kalian sudah terlanjur punya cerita masing-masing dalam menjalani hidup. Disiang harinya di hari yang berbeda tapi kegiatan malamnya selalu sama, remi, remi, dan remi, sampai terpikir oleh kami, kelak kita bikin program game remi (akh wae). Di siang itu saat saya benar-benar belum bangun, teman saya pergi ke wc yang kebenaran ada di dalam kostan mungkin dia mau buang hajat, tapi ga tau lah, karna saya belum bangun dan sudah pasti saya lagi tertidur lelap dimakan rasa ngantuk yang sebelumnya saya tertidur saya harus berjuang keras sekuat tenaga, tenaga beca, untuk tidak menyandang gelar ‘RT’, ‘RW’ dan sebagainya. Bergantian pemilik kostan pun masuk ke wc, nah yang ini saya tau kenapa dia pergi ke wc, ke wc yang banyak jentik nyamuknya. Dia, orang itu, orang yang menyewa kostan itu, ya benar, dia mau buang hajat. Oh betapa nikmatnya bagi dia, yang telah membuang hajat dengan dingin, tapi……………………………………………………
Tidak lama kemudian saya pun terbangun dan pengen buang hajat. Saya pun sesegera mungkin menuju wc yang tadi telah dikotori penyewa kostan itu. Dengan keadaan yang masih lulugu (lulugu=keadaan saat baru tidur) saya buka pintu wc itu, dan tenyata saya dapati beberapa roladeu (roladeu=sejenis makanan daging ayam cincang, walau jujur saya tidak tau prĂ©cis bagaimana menulisakan kata roladeu itu) yang sedang asik-asiknya berenang di waterclose. Spontan saya memanggil lagi teman saya “guh, anying, tingali kalakuan baturan sia(sembari garuk-garuk kelapa)”. lempar kata pun terjadi saat itu. Wellem say “naon ai manyeh hudang sare aadatan”. Saya pun kembali melempar dia kata-kata “tingali heula anying kadieu keudeung” saya berkata begitu sambil cengengesan + marah. Wellem pun tidak mau menghampiri saya yang sedang ada disela-sela pintu wc, mungkin dia tidak mau diganggu karena lagi asik main PES atau mungkin dia sudah tau bahwa di wc ada apa. Dengan kecewa dan putus asa mencari si genzo itu (orang yang terakhir kali diam di kamar kecil). Di pagi itu, yang sebenernya saya tidak tau apakah itu pagi atau siang, sesegera mungkin saya mencari tersangka itu keluar. Tidak lama kemudian saya berhasil menangkap dia yang sedang asik mencari sinyal hapenya diluar sana. Saya tuntun dia ke TKP itu. Saya pun mulai menghakimi nya dengan suara lantang “nyink di ,tingali maneh mode doll teu di seblok”. Seperti biasa dengan raut muka yang ‘tiis’ dan tidak bersalah dia hanya memberi saya cengiran yang khas, dan untungnya langsung dia seblok, dan wellem pun hanya bisa tertawa terbahak-bahak melihat kebodohan saya, sebenernya saat itu saya ingin sekali membagi kebodohan saya kepada dia untuk memandangi roladeu itu.
Di bangunan itu, saya tunjukan pula, bahwa teman is numero uno. Ya, saat itu handpone saya berbunyi dan bergetar, pertanda ada sms masuk. Kira-kira beginilah bunyi pesan tersebut “bah, urang aya di kostan chrdi duaan, maneh kadieu urang remi yeuh”, euh remi dai remi dai (sambil mengeluh). Tidak ada kerjaan lain selain itu. Tapi terpikir jiwa pahlawan saya saat itu, saya tidak tega melihat mereka remi hanya berdua,hahahaha. Di siang itu, kali ini saya bener-benar tau bahwa itu adalah siang, saya pun sesegera bergegas menghampiri mereka, walau jarak tidak dekat saya abaikan. Sesaat sesudah saya tiba di tempat itu. Tidak lama remi akbar pun digelar kembali. Dan tidak lama kemudian hape saya berdering di tengah-tengah saya lagi asiknya remi. Tanda-tanda ada pesan, pesan yang mungkin sekuat tenaga masuk ke hape saya karna sinyal minim yang harus ia dapati. Pesan text yang ditujukan pada saya “yangst bisa jemput ga pulang sekolah”. Saya pun memutar otak untuk membalas sms itu, dan tiba lah saya membalas sms itu dengan nada sedikit berbohong,sedikit merayu(ga banyak ko’) “adulh ga bisa uy, lagi di kostan temen nyari bahan nih yangs” tiis dan berharap dia percaya, itulah pikiran saya saat itu, tapi jujur kata sebenernya saat itu emang sebelumnya ada niat untuk cari bahan software dan bahan untuk ketikan pada saat ini. Dan remi pun terus berlanjut. Dan apabila saya ceritakan kejadian itu terlalu malas untuk saya ceritakan. Karena pasti tahu jawabannya, (tidak rame).
Dan ternyata sesungguhnya tertawa itu nikmat dan yang lebih nikmat itu di tertawakan karena, orang negative berpikir dan membusukkan dadanya, akh saya jadi bahan celaan, ledekan, ataupun celaan. Tapi orang positif berpikir dan membusungkan dadanya, betapa bahagianya saya bisa menyebabkan orang lain bahagia dengan tertawaannya. Mungkin bagi sebagian orang jika saya menuliskan cerita ini akh itu hanya sebuah ke-GJ an atau GP (yang konon itu bahasa geol pada masa kini ceunah). Tapi betapa GJ dan GPnya anda jika anda terlanjur membacanya, padahal masih banyak tuh bacaan yang lebih penting yang harus dibaca, semisal buku fisika dll.
Malam minggu demi malam minggu saya habiskan bersama beberapa teman saya di kostan itu. Kalau saya boleh hiperbola dalam menggambarkan kostan itu, wah itu sebuah bangunan yang kalau dibandingkan dengan wc rumah saya, masih terlalu besar dan nyaman kostan itu. Kostan dimana kita selalu sulit dibuatnya hanya untuk sekadar mengetahui perbedaan antara pagi dengan sore, dan sore dengan pagi. Kostan yang selalu melatih kesabaran ditengah jail nya para pemakan bangkai itu (pemakan bangkai=menunjuk ke teman-teman saya). Pasti saja dan selalu jika ada salah satu dari kami yang masuk ke wc nya untuk ‘maaf’ pups, selalu saja di kunci diluar dengan durasi yang bisa dikatakan tidak sebentar.
Di situ (bukan berarti menunjuk ke situ ciburuy), bangunan yang saya tidak tau sama sekali kapan di bangunnya, bangunan yang di bangun pembangun itu. Andai saja saya tau, mungkin saya akan menuliskannya. Bangunan itu bangunan yang punya banyak cerita untuk kelak kami ceritakan pada anak cucu kami (itupun kalau ingat,tapi kayanya akan lupa). Tempat menanam benih-benih canda tawa dan duka lara. Tempat menghabiskan waktu di akhir minggu kami untuk berREMI ria ditemani kerikil makanan dan sedikit minuman yang terpisah dengan kulkasnya, kulkas, ya kulkas, kulkas yang jarang panen akan makanannya. Jikalau pun ada, ah itu hanya sebungkus keripik tempe dan hanya sekali, selebihnya nihil akan makanan. Pernah saya dapati ketika saya sedang lapar-laparnya, ketika membuka kulkas itu ada sebungkus keripik tempe yang wujudnya nampak sudah beku dibuatnya, sontak saya pun sesegera bertanya kepada teman saya yang sebut saja lah dia wellem, saya bertanya dengan nada kagett “astagfirullohhaladzim, guh, tinggali na pulkas aya naon?” . kontan wellem pun menjawab dengan nada seadanya dan sedingin pula “jiss, naon ieu di aya kiripik tempe na kulkas”. Sang empunya kostan pun menjawab spontan dengan nada tak bersalah “meh ngerekes euy (sembari nyengir)”. Apadaya dimakan pula lah itu makanan. Dan remi pun terus terjadi, tidak lupa selalu di iringi lagu-lagu vierra, hampir se-album lagu-lagu itu kami dengarkan ditengah-tengah kami sedang serius memikirkan kumpulan kardus bergambar itu. Saking seringnya diputar ulang, saya pun mungkin tahu betul lirik-lirik lagunya, saya berani bertaruh jikalau dalam ujian ada soal yang menanyakan lirik vierra itu, saya yakin akan mendapatkan nilai maksimal, hehe.
Di bangunan itu , tempat yang menyimpan cerita-cerita menarik bagi saya, tapi mungkin tidak bagi orang lain, mereka kan ga merasakannya. andai saja kamu disitu turut bersama kami, mungkin kamu bisa berasakannya. Tapi kayanya ga usah kayanya, kalian sudah terlanjur punya cerita masing-masing dalam menjalani hidup. Disiang harinya di hari yang berbeda tapi kegiatan malamnya selalu sama, remi, remi, dan remi, sampai terpikir oleh kami, kelak kita bikin program game remi (akh wae). Di siang itu saat saya benar-benar belum bangun, teman saya pergi ke wc yang kebenaran ada di dalam kostan mungkin dia mau buang hajat, tapi ga tau lah, karna saya belum bangun dan sudah pasti saya lagi tertidur lelap dimakan rasa ngantuk yang sebelumnya saya tertidur saya harus berjuang keras sekuat tenaga, tenaga beca, untuk tidak menyandang gelar ‘RT’, ‘RW’ dan sebagainya. Bergantian pemilik kostan pun masuk ke wc, nah yang ini saya tau kenapa dia pergi ke wc, ke wc yang banyak jentik nyamuknya. Dia, orang itu, orang yang menyewa kostan itu, ya benar, dia mau buang hajat. Oh betapa nikmatnya bagi dia, yang telah membuang hajat dengan dingin, tapi……………………………………………………
Tidak lama kemudian saya pun terbangun dan pengen buang hajat. Saya pun sesegera mungkin menuju wc yang tadi telah dikotori penyewa kostan itu. Dengan keadaan yang masih lulugu (lulugu=keadaan saat baru tidur) saya buka pintu wc itu, dan tenyata saya dapati beberapa roladeu (roladeu=sejenis makanan daging ayam cincang, walau jujur saya tidak tau prĂ©cis bagaimana menulisakan kata roladeu itu) yang sedang asik-asiknya berenang di waterclose. Spontan saya memanggil lagi teman saya “guh, anying, tingali kalakuan baturan sia(sembari garuk-garuk kelapa)”. lempar kata pun terjadi saat itu. Wellem say “naon ai manyeh hudang sare aadatan”. Saya pun kembali melempar dia kata-kata “tingali heula anying kadieu keudeung” saya berkata begitu sambil cengengesan + marah. Wellem pun tidak mau menghampiri saya yang sedang ada disela-sela pintu wc, mungkin dia tidak mau diganggu karena lagi asik main PES atau mungkin dia sudah tau bahwa di wc ada apa. Dengan kecewa dan putus asa mencari si genzo itu (orang yang terakhir kali diam di kamar kecil). Di pagi itu, yang sebenernya saya tidak tau apakah itu pagi atau siang, sesegera mungkin saya mencari tersangka itu keluar. Tidak lama kemudian saya berhasil menangkap dia yang sedang asik mencari sinyal hapenya diluar sana. Saya tuntun dia ke TKP itu. Saya pun mulai menghakimi nya dengan suara lantang “nyink di ,tingali maneh mode doll teu di seblok”. Seperti biasa dengan raut muka yang ‘tiis’ dan tidak bersalah dia hanya memberi saya cengiran yang khas, dan untungnya langsung dia seblok, dan wellem pun hanya bisa tertawa terbahak-bahak melihat kebodohan saya, sebenernya saat itu saya ingin sekali membagi kebodohan saya kepada dia untuk memandangi roladeu itu.
Di bangunan itu, saya tunjukan pula, bahwa teman is numero uno. Ya, saat itu handpone saya berbunyi dan bergetar, pertanda ada sms masuk. Kira-kira beginilah bunyi pesan tersebut “bah, urang aya di kostan chrdi duaan, maneh kadieu urang remi yeuh”, euh remi dai remi dai (sambil mengeluh). Tidak ada kerjaan lain selain itu. Tapi terpikir jiwa pahlawan saya saat itu, saya tidak tega melihat mereka remi hanya berdua,hahahaha. Di siang itu, kali ini saya bener-benar tau bahwa itu adalah siang, saya pun sesegera bergegas menghampiri mereka, walau jarak tidak dekat saya abaikan. Sesaat sesudah saya tiba di tempat itu. Tidak lama remi akbar pun digelar kembali. Dan tidak lama kemudian hape saya berdering di tengah-tengah saya lagi asiknya remi. Tanda-tanda ada pesan, pesan yang mungkin sekuat tenaga masuk ke hape saya karna sinyal minim yang harus ia dapati. Pesan text yang ditujukan pada saya “yangst bisa jemput ga pulang sekolah”. Saya pun memutar otak untuk membalas sms itu, dan tiba lah saya membalas sms itu dengan nada sedikit berbohong,sedikit merayu(ga banyak ko’) “adulh ga bisa uy, lagi di kostan temen nyari bahan nih yangs” tiis dan berharap dia percaya, itulah pikiran saya saat itu, tapi jujur kata sebenernya saat itu emang sebelumnya ada niat untuk cari bahan software dan bahan untuk ketikan pada saat ini. Dan remi pun terus berlanjut. Dan apabila saya ceritakan kejadian itu terlalu malas untuk saya ceritakan. Karena pasti tahu jawabannya, (tidak rame).
Dan ternyata sesungguhnya tertawa itu nikmat dan yang lebih nikmat itu di tertawakan karena, orang negative berpikir dan membusukkan dadanya, akh saya jadi bahan celaan, ledekan, ataupun celaan. Tapi orang positif berpikir dan membusungkan dadanya, betapa bahagianya saya bisa menyebabkan orang lain bahagia dengan tertawaannya. Mungkin bagi sebagian orang jika saya menuliskan cerita ini akh itu hanya sebuah ke-GJ an atau GP (yang konon itu bahasa geol pada masa kini ceunah). Tapi betapa GJ dan GPnya anda jika anda terlanjur membacanya, padahal masih banyak tuh bacaan yang lebih penting yang harus dibaca, semisal buku fisika dll.
KITA adalah apa yang KITA pikirkan mengenai diri kita sendiri
Dari judulnya sih mungkin sudah bagus nih,tapi coba kita lihat isinya (lebih tepatnya di baca bukan dilihat saja). Oh tentu itu relative dong! Coooobaaaa…..
Mungkin banyak contoh kasus yang saya maksudkan pada judul diatas. Itu judul pun referensi dari sebuah buku yang saya baca,bukan saya makan. Setelah saya sedikit demi sedikit sampai hatamnya, dan setelah saya piker-pikir juga, ya ternyata saya bisa mengamini judul diatas, judul yang berbunyi apa bila di bacakan (saya tidak peduli logat yang digunakan memakai logat apapun) akan berbunyi seperti ini “KITA adalah hasil dari apa yang KITA pikirkan mengenai diri kita sendiri”. Ya diri kita sendiri, jelas bukan orang lain.
Suatu hari saya menemukan seorang preman di suatu pasar, entah itu pasar mana terlanjur lupa untuk saya mengingatnya. wah betapa bangganya saya menemukan seorang preman, mungkin sama bangganya ketika cristopher coloumbus menemukan benua amerika (walau di sebagian sumber mengatakan bahwa penemu amerika adalah orang-orang afrika, bukan lah crhistoper coloumbus yang menemukannya, tapi james cook lah yang menemukan benua Australia). Dan kenapa preman itu disebut preman padahal sama saja dengan kita, makan dengan nasi bukan dengan tangan. Dan mungkin itu pasti! Yang saya maksudkan dalam judul. Pola pikir yang membedakannya, si preman itu mengganggap/berpikir bahwa ini loh saya ini seseorang(preman) yang berani,tidak takut mati,yang bisa menguasai daerah ini atau apa lah kata-kata/pemikiran yang mengagungkan dirinya sendiri (tentu bukan orang lain), maka jadi lah si orang itu menjadi seorang preman.
Di suatu lain hari pula, hari dimana tidak sama dengan hari di atas. Saya menemukan seseorang, ya seseorang, bukanlah bola lampu yang saya temukan seperti yang di temukan oleh Thomas alva Edison. bisa dikatakan si orang yang kebeneran itu adalah teman saya yang cerdas,pintar atau apa lah hal lainnya yang positif. Tapi di suatu hari saat dia sedang ujian dikealas. Entah tau kenapa dia terlihat beda, dari bahasa tubuhnya atau raut wajahnya terlihat dia tak berdaya dimakan kepanikannya, mungkinkah dia panik karena sebelumnya tidak mencabuti rambut-rambut yang ada di ketiaknya ataukah dia panik karena sebelumnya ‘maaf’ tidak ee’ dulu, sehingga sakit perut. Oh tapi saya tidak tahu kenapa dia benar-benar panik. Dan kepanikannya yang dia rasakan saat itu menyebabkan si orang tersebut ya panik dan amburadul lah hasil ujiannya pun, karena dia tidak bisa fokus akan soal-soal yang dia dapatkan. Kepanikkan lah yang melulu dia pikirkan dan tercipta lah dia orang yang benar-benar panik.
Terlalu banyak kasus yang berbanding lurus dengan judul diatas, mungkin. Semisal contoh nih, saya temukan kembali seseorang (wah bakat euy jadi penemu), sedikit cerita, saya juga penemu nih,,,ahahahaha :P. penemu uang recehan yang selalu mamah saya simpan di atas timbangan. Kembali lagi kita adalah apa yang kita pikirkan mengenai diri kita sendiri, ketika kita berfikir, wah saya bisa nih ngelakuin ini, maka insya allah kita bisa ngelakuinnya dengan keinginan yang kuat, tapi saat kita berfikir/merasa, akh saya meles/tidak bisa nih ngelakuinnya (kalah sebelum perang), terus rasa malas, malas dan malas yang menyelimuti maka ya bener-bener maleslah yang kita dapatkan. Dan ketika seseorang merasa dirinya PD, penting , dengan atribut yang dia kenakan,dapatkan,siapkan dan tidak di makan maka jadilah dia orang yang benar-benar PD (walau kadang PD nya berlebih mungkin) tentu saja bukan ke nerveous-an yang dia tampilkan pada orang-orang. Dan lainnya .
Mungkin sebagian orang bisa mengamininya akan buku yang saya baca itu. Yang sebagian saya bawakan dengan cara saya sendiri (semoga saja benar (sambil berharap)). Dan sebagian yang tidak mengamininya. Ga asik dong kalau hidup melulu diwarnai pro tanpa dihiasi kontra. Dan sebaliknya. Betul atau tidak betulnya ga usah di jawab.
Bandung, 30 des 2009
Terinspirasi, saat saya sedang mandi
Mungkin banyak contoh kasus yang saya maksudkan pada judul diatas. Itu judul pun referensi dari sebuah buku yang saya baca,bukan saya makan. Setelah saya sedikit demi sedikit sampai hatamnya, dan setelah saya piker-pikir juga, ya ternyata saya bisa mengamini judul diatas, judul yang berbunyi apa bila di bacakan (saya tidak peduli logat yang digunakan memakai logat apapun) akan berbunyi seperti ini “KITA adalah hasil dari apa yang KITA pikirkan mengenai diri kita sendiri”. Ya diri kita sendiri, jelas bukan orang lain.
Suatu hari saya menemukan seorang preman di suatu pasar, entah itu pasar mana terlanjur lupa untuk saya mengingatnya. wah betapa bangganya saya menemukan seorang preman, mungkin sama bangganya ketika cristopher coloumbus menemukan benua amerika (walau di sebagian sumber mengatakan bahwa penemu amerika adalah orang-orang afrika, bukan lah crhistoper coloumbus yang menemukannya, tapi james cook lah yang menemukan benua Australia). Dan kenapa preman itu disebut preman padahal sama saja dengan kita, makan dengan nasi bukan dengan tangan. Dan mungkin itu pasti! Yang saya maksudkan dalam judul. Pola pikir yang membedakannya, si preman itu mengganggap/berpikir bahwa ini loh saya ini seseorang(preman) yang berani,tidak takut mati,yang bisa menguasai daerah ini atau apa lah kata-kata/pemikiran yang mengagungkan dirinya sendiri (tentu bukan orang lain), maka jadi lah si orang itu menjadi seorang preman.
Di suatu lain hari pula, hari dimana tidak sama dengan hari di atas. Saya menemukan seseorang, ya seseorang, bukanlah bola lampu yang saya temukan seperti yang di temukan oleh Thomas alva Edison. bisa dikatakan si orang yang kebeneran itu adalah teman saya yang cerdas,pintar atau apa lah hal lainnya yang positif. Tapi di suatu hari saat dia sedang ujian dikealas. Entah tau kenapa dia terlihat beda, dari bahasa tubuhnya atau raut wajahnya terlihat dia tak berdaya dimakan kepanikannya, mungkinkah dia panik karena sebelumnya tidak mencabuti rambut-rambut yang ada di ketiaknya ataukah dia panik karena sebelumnya ‘maaf’ tidak ee’ dulu, sehingga sakit perut. Oh tapi saya tidak tahu kenapa dia benar-benar panik. Dan kepanikannya yang dia rasakan saat itu menyebabkan si orang tersebut ya panik dan amburadul lah hasil ujiannya pun, karena dia tidak bisa fokus akan soal-soal yang dia dapatkan. Kepanikkan lah yang melulu dia pikirkan dan tercipta lah dia orang yang benar-benar panik.
Terlalu banyak kasus yang berbanding lurus dengan judul diatas, mungkin. Semisal contoh nih, saya temukan kembali seseorang (wah bakat euy jadi penemu), sedikit cerita, saya juga penemu nih,,,ahahahaha :P. penemu uang recehan yang selalu mamah saya simpan di atas timbangan. Kembali lagi kita adalah apa yang kita pikirkan mengenai diri kita sendiri, ketika kita berfikir, wah saya bisa nih ngelakuin ini, maka insya allah kita bisa ngelakuinnya dengan keinginan yang kuat, tapi saat kita berfikir/merasa, akh saya meles/tidak bisa nih ngelakuinnya (kalah sebelum perang), terus rasa malas, malas dan malas yang menyelimuti maka ya bener-bener maleslah yang kita dapatkan. Dan ketika seseorang merasa dirinya PD, penting , dengan atribut yang dia kenakan,dapatkan,siapkan dan tidak di makan maka jadilah dia orang yang benar-benar PD (walau kadang PD nya berlebih mungkin) tentu saja bukan ke nerveous-an yang dia tampilkan pada orang-orang. Dan lainnya .
Mungkin sebagian orang bisa mengamininya akan buku yang saya baca itu. Yang sebagian saya bawakan dengan cara saya sendiri (semoga saja benar (sambil berharap)). Dan sebagian yang tidak mengamininya. Ga asik dong kalau hidup melulu diwarnai pro tanpa dihiasi kontra. Dan sebaliknya. Betul atau tidak betulnya ga usah di jawab.
Bandung, 30 des 2009
Terinspirasi, saat saya sedang mandi
Langganan:
Komentar (Atom)